Let the world surprise you

a space, for my own.

“Aku rindu masa masa itu
Ketika kita merentangkan tangan keluar jendela hanya agar merasakan dinginnya angin di ketinggian
Merasakan dinginya angin yang menusuk tulang ketika dengan bodohnya kita mendaki tanpa persiapan
Ketika mata terpana melihat matahari perlahan hilang menghasilkan senja yang beraneka warna
Dan akhirnya gelap ditemani lampu rumahan di kaki bukit memanjakan mata kita
Sambil sesekali kita menyesap teh panas yang segera berganti hangat dan akhirnya dingin.”

“It’s nice to have someone to talk and share the day.”

“Aku pergi menjauh, mengejar batu bersinar yang kukira lebih berharga. Namun ternyata yang kumiliki sebelumnya jauh lebih berharga. Tuhan mengajariku menghargai apa yang aku miliki dengan membuatku kehilangan benda berharga yang pernah aku miliki. He gave me second chances, but is there any third chances, am i asking too much?”

“How the heck on earth to say that i want to be with you.”

“Semua yang saya mau ada,
Iya hanya ada, bukan milik.”

“Kalau memang hilang jangkar, kenapa tidak berlayar?
Takut angin terlalu kencang?
Takut ombak terlalu tinggi?
Kamu belum hidup namanya..”

“Setau gw jenuh itu wajar, tapi kalau engga bahagia buat apa? manusia hidup untuk bahagia ~Nisa”

Di sore ini ada yang berbeda, karena akhirnya ada seorang teman yang berkunjung ke kota. Membuat minggu sore yang biasanya hanya diisi nonton tv atau sekedar baca komik berubah haluan.

Bertemu teman lama yang lebih dari setahun ini belum bertemu. Jangan kan bertemu berkomunikasi pun terbatas. Tak ada yang spesial sejatinya dipertemuan ini, hanya dua teman lama yang kebetulan berada di kota yang sama dan ingin sekedar berbincang.

Kami berjanji untuk ngopi ngopi di sebuah kedai kopi di Margonda. Tempat yang baru kami ketahui dari seorang teman juga. Kami berbincang tentang berbagai hal, dari mulai cerita cerita lalu saat masih sering bertemu, keadaan masing masing saat ini, dan rencana rencana yang kami buat untuk masa depan. It was nice, namun bagi saya perbincangan sedikit memberi arti lain, dimana apa yang kami bicarakan menyadarkan saya akan perubahan yang terjadi pada diri saya. Mengingatkan bagaimana dulu saya berlaku, tujuan saya sebenarnya apa, dan lebih meyakinkan saya akan beberapa keraguan yang saya rasakan. Kadang seseorang sudah lama tidak berjumpa itu dapat memberi saran sudut pandang lain. Dan disana dia mengingatkan yang terlupa setahun kemarin.

Saya rindu menjadi saya yang kuat dan tegas akan keputusan yang saya ambil, bukan sekarang yang ragu akan apa yang ingin saya lakukan. Pertimbangan itu perlu, namun apa artinya bila hanya ditimbang namun tak ada gerakan.

Saya rindu menjadi saya yang apa ada berkata dengan bebas, bukan saya yang takut salah bicara dan kadang jadi menyalahkan diri walau kadang saya tidak mengerti apa kesalahan saya. Hati hati dalam bicara itu perlu, namun jika malah jadi takut untuk bicara apa itu baik?

Saya rindu menjadi saya yang bebas berteman, bukan yang harus membatasi teman karena hal hal yang ada. Batas itu perlu, tapi bukan untuk membuat saya kehilangan teman.

“Saya rindu jadi saya yang biasa, saya yang bawel, saya yang suka suka, saya yang bebas.”

“Kita mencinta dalam ketenangan badai.”

Boleh aku bilang sesuatu.
Silahkan sibuk sesukamu.
Toh aku tetap ada disini.
Silahkan diam dan baca pesanku.
Toh aku tetap mengirimimu.
Silahkan berkata itulah kamu.
Toh aku tetap berusaha mengerti.

Atau tidak lagi?
Atau aku lelah?
Atau aku tidak sabar lagi?